BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Filsafat adalah pandangan hidup
seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan
yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang
sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin
melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Pada dasarnya, manusia telah dikaruniai akal
sejak berada di alam rahim. Yaitu, saat berumur 120 hari dalam kandungan
ibunya.
Karenanya manusia lahir kedunia di anugerahi fitrah akal untuk berpikir. Potensi rasionalisme inilah yang bukan hanya membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Semisal, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Potensi akal yang ada dalam otak manusia tersebut bila mana difungsikan secara positif akan mengantarkan manusia pada capaian-capaian yang mengagumkan secara spiritual sekaligus material.
Karenanya manusia lahir kedunia di anugerahi fitrah akal untuk berpikir. Potensi rasionalisme inilah yang bukan hanya membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Semisal, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Potensi akal yang ada dalam otak manusia tersebut bila mana difungsikan secara positif akan mengantarkan manusia pada capaian-capaian yang mengagumkan secara spiritual sekaligus material.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu
berjumpa dengan hal-hal yang abstrak. Lantas bertanya, dan berpikir
merasionalisasikan yang menggerakkan spiritualitas. Hingga pada akhirnya
manusia terhantar kepuncak kesadaran bahwa ada “Wujud Pertama” yang
dilegitimasi sebagai kemahakuasaan di luar dirinya, itulah Tuhan yang
menciptakan segala isi dunia.
Sekarang ini, seringkali kita jumpai seseorang yang
melegitimasi dirinya sebagai Tuhan, terorisme, radikalisme, liberalisme dan
ateisme yang mengingkari eksistensi Tuhan sebagai Dzat pencipta. Sebab
demikian, tidak berarti fitrah rasionalitas itu berdiri sendiri dan
berjalan tanpa problem.
Dari semua aliran-aliran yang membahayakan di
atas, untuk mengantarkan pada jawaban sementara ialah disebabkan “dunia
filsafat”, nyaris semua pembangkang Tuhan adalah para filsuf. Atau setidaknya,
mereka yang pernah bergaul dan intim dengan filsafat. Terutama teman-teman
remaja dikalangan mahasiswa yang notabene memiliki sikologis dan psikologis
kurang stabil. Begitupun sebaliknya, teramat banyak filsuf yang tunduk kian
takzim sebagai hamba Tuhan setelah mendalami dan menekuni dunia filsafat.
Seperti, Ibnu Sina dan Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Kalsteinbrink dan
Annimarie Schimmell. Selintingan dualisme klaim dari kausal dunia filsafat di
atas, menyebabkan adanya kesetaraan jumlah klaim “kemungkaran” yang diakibatkan
oleh filsafat dengan klaim “keshalehan” yang dimotivasi oleh dunia filsafat.
A. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
pengertian filsafat menurut para tokoh?
2.
Bagaimana
pengertian logika?
3.
Apa
saja aliran-aliran filsafat?
B. Tujuan Makalah
Pada dasarnya, tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pengantar
Filsafat. Selain itu, makalah ini juga
berfungsi sebagai media yang dapat menambah pengetahuan kita semua di dalam
memperdalam wawasan kita di dunia filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Peranan Filsafat
1.
Pengertian
Filsafat
Istilah Filsafat berasal dari bahasa
Yunani: ”philosophia”.
Dalam bahasa lain, seperti :
”philosophic” dalam kebudayaan bangsa
Jerman, Belanda, dan Perancis;
“philosophy” dalam bahasa Inggris
“philosophia” dalam bahasa Latin; dan
“falsafah” dalam bahasa Arab.
Secara etimologi, istilah filsafat
berasal dari bahasa Arab, yaitu فلسافة atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia
– philien: cinta dan sophia: kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami
bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari
kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Secara terminologi, para filsuf
merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan
yang dimilikinya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut
beberapa para ahli:
Plato ( 428 -348 SM )
Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang
segala yang ada. Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan
kebenaran yang asli.
Aristoteles ( (384 – 322 SM)
Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang
meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika,
retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Bahwa kewajiban filsafat
adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat
bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi
sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Al Farabi
Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam
maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Cicero (106 – 43 SM )
Filsafat adalah sebagai ibu dari semua seni
(the mother of all the arts) dan Cicero juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae
(seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte (1762-1814 )
Filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari
ilmu-ilmu, yakni ilmu umum yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan
sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan
seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 – 1924 )
Filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar
hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir
yang sama, yang memikul sekaliannya).
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 )
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi
pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat
persoalan.
Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya
metafisika )
Apakah yang seharusnya kita kerjakan
(jawabannya Etika )
Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya
Agama )
Apakah
yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi)
Notonegoro
Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan
objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang
disebut hakekat.
Driyakarya
Filsafat sebagai perenungan yang
sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang
kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
Sidi Gazalba
Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari
kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan
berfikir radikal, sistematik dan universal.
Harold H. Titus (1979 )
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan
terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.
Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap
yang dijunjung tinggi; Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu
pandangan keseluruhan; Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan
penjelasan tentang arti kata dan pengertian (konsep); Filsafat adalah kumpulan
masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para
ahli filsafat.
Hasbullah Bakry
Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki
segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia
sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu
sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Prof. Mr.Mumahamd Yamin
Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga
manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya
kesungguhan.
Prof.Dr.Ismaun, M.Pd.
Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan
manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis
sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan
menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang
sejati.
Bertrand Russel
Filsafat adalah sesuatu yang berada di
tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat
berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan
definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun,
seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas
tradisi maupun otoritas wahyu.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis
di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan
sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi
tersebut.
B. Logika
Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan
hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dan penalaran yang salah.
Proposisi kategorik adalah suatu pernyataan yang terdiri atas hubungan dua term sebagai subjek dan predikat serta dapat dinilai benar atau salah. Hubungan ini berbentuk peng-iya-an atau pengingkaran. Proposisi kategorik terdiri atas empat unsur, dua di antaranya merupakan materi pokok proposisi, sedang dua yang lain sebagai hal yang menyertainya. Empat unsur yang dimaksudkan adalah term sebagai subjek, term sebagai predikat, kopula, dan kuantor.
Proposisi kategorik adalah suatu pernyataan yang terdiri atas hubungan dua term sebagai subjek dan predikat serta dapat dinilai benar atau salah. Hubungan ini berbentuk peng-iya-an atau pengingkaran. Proposisi kategorik terdiri atas empat unsur, dua di antaranya merupakan materi pokok proposisi, sedang dua yang lain sebagai hal yang menyertainya. Empat unsur yang dimaksudkan adalah term sebagai subjek, term sebagai predikat, kopula, dan kuantor.
Term sebagai subjek adalah hal
yang diterangkan dalam proposisi, term sebagai predikat adalah hal yang
menerangkan dalam proposisi. Kedua unsur sebagai subjek dan predikat inilah
yang merupakan materi pokok proposisi kategorik. Kopula merupakan hal yang
mengungkapkan adanya hubungan antara subjek dan predikat, dan kuantor merupakan
pembilang yang menunjukkan lingkungan yang dimaksudkan oleh subjek.
-
Asas-asas Berfikir
Asas adalah pangkal atau asal dari mana suatu
tu muncul dan dimengerti. Maka “Asas Pemikiran” adalah pengetahuan dimana
pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi kelurusan
berpikir adalah mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung
terlaksana tidaknya asas-asas ini. Ia adalah dasar daripada pengetahuan dan
ilmu. Asas pemikiran ini dapat dibedakan menjadi:
1. Asas Identitas (principium identatis =
qanuun zatiyah)
Asas identitas merupakan dasar dari semua
pemikiran dan bahkan pemikiran yang lain. Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu
itu adalah dia sendiri bukan lainya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu Z
maka ia adalah Z dan bukan A, B atau C. Bila dijadikan rumus maka akan berbunyi
“Bila proposisi itu benar maka benarlah ia”.
2.
Asas kontradiksi (principum contradictoris =
qanun tanaqud)
Prinsip
ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan
pengakuanya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan A maka tidak mungkin
pada saat itu ia adalah A, sebab realitas hanya satu sebagaimana disebut oleh
asas identitas. Dua kenyataan yang kontradiktoris tidak mungkin bersama-sama
secara simultan. Jika dirumuskan maka akan berbunyi “Tidak ada proposisi yang
sekaligus benar dan salah”.
3. Asas penolakan kemungkinan ketiga
(principium exclusi tertii = qanun imtina’)
Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan
pengingkaran kebenaranya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan
pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu tidak mungkin keduanya
benar dan juga tidak mungkin keduanya salah. Jika kita rumuskan akan berbunyi
“Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah”.
-
Cara Mendapatkan Kebenaran
Ada dua cara berpikir yang dapat digunakan
untuk mendapatkan pengetahuan baru yang benar, yaitu melalui metode induksi dan
metode deduksi.
1. Metode induksi
Induksi adalah cara berpikir untuk menarik
kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat
individual.penalaran ini dimulai dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus
dan terbatas kemudian diakhiri dengan peryataan yang bersifat umum.
Contoh : Besi dipanaskan memuai
Seng dipanaskan memuai
Emas dipanaskan memuai
Timah dipanaskan memuai
Platina dipanaskan memuai
Jadi, Semua logam jika dipanaskan memuai.
Keuntungan cara penalaran menggunakan metode
induksi:
-Kita dapat berpikir secara ekonomis.
-Pernyataan yang dihasilkan melalui cara
berpikir induksi tadi memungkinkan proses penalaran selanjutnya, baik secara
induktif maupun deduktif.
2. Metode deduksi
Deduksi adalah kegiatan berpikir merupakan
kebalikan dari penalaran induksi. Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan
yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus.
Contoh : Semua
logam bila dipanaskan, memuai
Tembaga adalah logam
Jadi, tembaga bila dipanaskan, memuai.
Keuntungan dari metode deduksi adalah kita bisa
mendapatkan pengetahuan tanpa melalui penelitian terlebih dahulu.
Pengetahuan yang benar adalah dengan
menggabugkan dua metode ini secara cermat dan kritis. Pengembangan pengetahuan
bila hanya menggantungkan penalaran induksi akan sangat lambat dan boros.
Sebaliknya deduksi meminta jasa induksi dalam menggunakan dasar pemikiranya.
D. Pembagian Logika
Logika atau mantiq dapat disistematisasikan
menjadi beberapa golongan, tergantun dari mana kita meninjaunya.
1. Pembagian logika dari segi kualitasnya
:
- Logika naturalis (mantiq al-fitri)
Logika naturalis yaitu kecakapan berlogika
berdasarkan kemampuan akal manusia.
- Logika ilmiah (mantiq as-suri)
Logika ilmiah ialah untuk membantu logika
naturalis (mantiq al-fitri) yaitu bertugas memperhalus, mempertajam serta menunjukan
jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.
2. Pembagian logika dari segi metodenya :
- Logika tradisional (mantiq al-qadim)
Logika tradisional yaitu logika Aristoteles dan
logika dari pada logikus setelahnya tetapi masih mengikuti sistem logika
Aristoteles.
- Logika modern (mantiq al-hadis)
Logika modern yaitu logika yang menggunakan
sistem baru yang dimulai sejak Raymundus Lullus. Logika ini tumbuh pada abad
XIII. Logika ini juga disebut Ars magna.
3.
Pembagian logika dilihat dari obyeknya :
- Logika formal (mantiq as-suwari)
- Logika
material (mantiq al-maddi)
C. Manfaat Logika
Logika dapat membantu berpikir lurus, efisien,
tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.
Karena logika dapat mendidik manusia bersikap obyektif, tegas dan berani.
Sebagai salah
satu pilar pemahaman kajian filsafat, Logika menjadi cabang yang sebaiknya Anda
pelajari pertama kali. Walaupun begitu, orang yang mempelajari Logika
seringkali mengalami hambatan. Ini terutama dikarenakan mereka sudah punya
pikiran yang kurang baik mengenai Logika. Ada yang mengatakan sukar, hanya
main-main saja, ataupun tidak diperlukan karena merasa "saya sudah
pandai".
Padahal, kalau
dikatakan sulit, Logika itu kan dipikirkan dan dibuat oleh manusia. Kita yang
sesama manusia ini harusnya bisa juga dong belajar Logika. Main-main? Sebab,
tanpa permainan yang baik dan juga Logika yang cukup, seorang Lewis Carroll (1832-1898)
tidak akan dapat membuat cerita Alice
in Wonderland (Alice di
Negeri yang Indah). Begitupun dengan ungkapan "tidak perlu", ini
harus dihilangkan baik-baik dari pikiran Anda.
Bukan apa-apa,
mempelajari Logika sebenarnya akan memberikan manfaat yang besar kalau kita
bisa memahaminya dengan baik. Salah satunya akan membuat kita tidak salah paham
dalam menilai pendapat seseorang hingga harus terjadi pertengkaran. Perang
sekalipun akan dapat kita hindari kalau kita mampu berpikir logis. Kecuali kita
bersikap egois dan hanya berpikir "mau menang sendiri".
Setelah membaca
penjelasan di atas, mungkin ada pertanyaan seperti ini: Apa sih yang dikaji
dalam Logika sampai kita harus mempelajarinya?
Ini adalah
pertanyaan yang bagus dan cukup tepat untuk kita bahas. Pada cabang Logika,
kita akan mempelajari tiga materi yang pokok, yaitu:
(1) sejarah dan
perkembangan pemikiran logika beserta aliran-alirannya,
(2)persoalan
istilah beserta pengolahannya, dan
(3) persoalan
pernyataan beserta pengolahannya.
Selebihnya,
materi-materi yang khusus dapat ditambahkan. Namun, hal ini tidak akan keluar
dari tiga materi pokok yang telah disebutkan.
Dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia (1984) yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, istilah
"ya" dapat berarti:
(1) kata untuk
menyatakan setuju; contoh: Ya, baiklah.
(2) wahai;
contoh: Ya tuanku!
(3) ... bukan;
contoh: Ia orang kaya, ya?
(4) gerangan;
contoh: Siapa ya yang tadi memanggil namaku?
(5) penguat;
contoh: Besok jangan lupa datang ya!
Berdasarkan
kelima contoh ini, sebenarnya sudah disebutkan beberapa alternatif yang cukup
luas untuk pengertian istilah "ya". Walaupun demikian, saya dapat
saja menambahkan konteks baru dalam pengertian istilah "ya".
Misalnya, dalam kalimat:
(6) "Ya,
kalau dia setuju. Kalau tidak, bagaimana?"
Di dalam
kalimat ini, istilah "ya" mengandung pengertian 'persetujuan yang
bersyarat'. Artinya, istilah "ya" pada kalimat (6) berbeda
pengertiannya dengan kalimat (1) yang saya kutipkan di atas karena
persetujuannya tidak langsung terpenuhi dengan hanya mengatakan "ya".
Memahami uraian
yang menggunakan contoh-contoh di atas, nampak bahwa apa yang diuraikan oleh
Poerwadarminta atas pengertian istilah "ya" dari segi bahasa tidak
dapat merangkum seluruh pengertian istilah "ya" yang mungkin akan
muncul. Termasuk penjelasan yang sebaiknya diberikan untuk pengertian
istilah "ya" dalam pengertian nomor (3). Kenapa istilah
"ya" dalam bahasa Indonesia juga mengandung istilah negatif
('bukan')? Padahal, dalam bahasa Inggris, kita tidak menemukan istilah
"yes" yang mengandung istilah negatif.
Pertanyaan
serupa di atas pun tidak akan muncul kalau kita tidak menggunakan Logika
sebagai dasar penalarannya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa pada
uraian-uraian di muka, Logika mengajarkan kita memahami suatu istilah dalam
berbagai konteks dan situasi. Ini dimungkinkan kalau kita dibiasakan untuk
berpikir dengan beragam pandangan. Sehingga, pikiran kita tidak hanya tertuju
pada satu pengertian saja dan akhirnya bisa terjatuh pada pikiran yang sempit.
Apa yang ditulis dalam sebuah kamus dalam pelajaran bahasa tidak dapat
dijadikan patokan dasar, walaupun dapat dijadikan acuan resmi untuk satu
istilah.
C.
Aliran-aliran
Filsafat
1.
Pragmatisme
Pragmatisme
adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu
yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau
hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran
objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis
dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar
dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada
manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan
terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima
begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu
bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika
memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak
mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang
bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat
di dalam sejarah.
2.
Vitalisme
Vitalisme
adalah suatu doktrin yang mengatakan bahwa suatu kehidupan terletak di luar
dunia materi dan karenanya kedua konsep ini, kehidupan dan materi, tidak bisa
saling mengintervensi. Dimana doktrin ini menghadirkan suatu konsep energi,
elan vital, yang menyokong suatu kehidupan dan energi ini bisa disamakan dengan
keberadaan suatu jiwa.
Pada
awal perkembangan filosofi di dunia medis, konsep energi ini begitu kental
sehingga seseorang dinyatakan sakit karena adanya ketidakseimbangan dalam
energi vitalnya. Dalam kebudayaan barat, yang dikaitkan dengan Hippocrates, energi
vital ini diwakilkan dengan humours; dan dalam budaya timur diwakilkan oleh qi
maupun prana.
3.
Fenomenologi
Fenomenologi
adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai
sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu
hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini.
Istilah
ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert (1728 – 1777),
seorang filsuf Jerman. Dalam bukunya Neues Organon (1764). ditulisnya tentang
ilmu yang tak nyata.
Dalam
pendekatan sastra, fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena,
sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha
untuk mendapatkan fitur-hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita
alami. G.W.F. Hegel dan Edmund Husserl adalah dua tokoh penting dalam
pengembangan pendekatan filosofis ini.
4.
Eksistensialisme
Eksistensialisme
adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam
mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui
mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar
bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme
adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat
Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an
itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan
eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu?
bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu
kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap
kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam
studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul
Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is condemned to be free”, manusia
dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia
bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan
eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam
istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan yang
bertanggung jawab”? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya
universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah
kebebasan individu lain.
Namun,
menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang
lain-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang
berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun
yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan
atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan
adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan
terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan
sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita
menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.
Kaum
eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji,
baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri
untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka
diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan
filsafat, teori, atau keyakinan kita.
5.
Filsafat Analitis
Filsafat
analitik adalah aliran filsafat yang muncul dari kelompok filsuf yang menyebut
dirinya lingkaran Wina. Filsafat analitik lingkaran Wina itu berkembang dari
Jerman hingga ke luar, yaitu Polandia dan Inggris. Pandangan utamanya adalah
penolakan terhadap metafisika. Bagi mereka, metafisika tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi filsafat analitik memang mirip dengan
filsafat sains.
Di
Inggris misalnya, gerakan Filsafat analitik ini sangat dominan dalam bidang
bahasa. Kemunculannya merupakan reaksi keras terhadap pengikut Hegel yang
mengusung [idealisme]] total. Dari pemikirannya, filsafat analitik merupakan
pengaruh dari rasionalisme Prancis, empirisisme Inggris dan kritisisme Kant.
Selain itu berkat empirisme John Locke pada abad 17 mengenai empirisisme, yang
merupakan penyatuan antara empirisisme Francis Bacon, Thomas Hobbes dan
rasionalisme Rene Descartes. Teori Locke adalah bahwa rasio selalu dipengaruhi
atau didahului oleh pengalaman. Setelah membentuk ilmu pengetahuan, maka akal
budi menjadi pasif. Pengaruh ini kemudian merambat ke dunia filsafat Amerika
Serikat, Rusia, Prancis, Jerman dan wilayah Eropa lainnya.
Setelah
era idealisme dunia Barat yang berpuncak pada Hegel, maka George Edward Moore
(1873-1958), seorang tokoh dari Universitas Cambridge mengobarkan anti Hegelian.
Bagi Moore, filsafat Hegel tidak memiliki dasar logika, sehingga tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara akal sehat. Kemudian pengaruhnya menggantikan
Hegelian, yang sangat terkenal dengan Filsafat bahasa, filsafat analitik atau
analisis logik.
Tokoh
yang mengembangkan filsafat ini adalah Bertrand Russell dan Ludwig
Wittgenstein. Mereka mengadakan analisis bahasa untuk memulihkan penggunaan
bahasa untuk memecahkan kesalahpahaman yang dilakukan oleh filsafat terhadap
logika bahasa. Hal inilah yang ditekankan oleh Charlesworth. Penekanan lain
oleh Wittgenstein adalah makna kata atau kalimat amat ditentukan oleh
penggunaan dalam bahasa, bukan oleh logika.
6.
Strukturalisme
Strukturalisme
adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudyaan
memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalisme juga adalah sebuah
pembedaan secara tajam mengenai masyarakt dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950
hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis. Strukturalisme berasal dari bahasa
Inggris, structuralism; latin struere (membangung), structura berarti bentuk
bangunan. Trend metodologis yang menyetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan
struktur objek-objek ini dikembangkan olerh para ahli humaniora. Struktualisme
berkembang pada abad 20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis
dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh
matematika, fisika dan ilmu-ilmu lain.
7.
Postmodernisme
Postmodernisme
adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernisme-nya.
Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuat teori, namun justru menghargai
teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal. Banyak
tokoh-tokoh yang memberikan arti postmodernisme sebagai kelanjutan dari
modernisme. Namun kelanjutan itu menjadi sangat beragam. Bagi Lyotard dan
Geldner, modernisme adalah pemutusan secara total dari modernisme. Bagi
Derrida, Foucault dan Baudrillard, bentuk radikal dari kemodernan yang akhirnya
bunuh diri karena sulit menyeragamkan teori-teori. Bagi David Graffin,
Postmodernisme adalah koreksi beberapa aspek dari moderinisme. Lalu bagi
Giddens, itu adalah bentuk modernisme yang sudah sadar diri dan menjadi bijak.
Yang terakhir, bagi Habermas, merupakan satu tahap dari modernisme yang belum
selesai.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Filsafat
Filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara
mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala
situasi tersebut.
Logika
Logika adalah
ilmu yang mempelajari metode dan hukum yang digunakan untuk membedakan
penalaran yang betul dan penalaran yang salah.
Aliran-aliran
Filsafat
1.
Pragmatisme
2.
Vitalisme
3.
Fenomenologi
4.
Eksistensialisme
5.
Filsafat Analitis
6.
Strukturalisme
7.
Postmodernisme
DAFTAR PUSTAKA
Mundiri, H. Logika, Jakarta: RajaGrafindo,
2003.
Ismaun.2007.
Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung :
UPI
Ismaun.2007. Kapita
Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan).
Bandung : UPI
Koento
Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta :
Universitas Terbuka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar