BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Fiqih menurut pengertian (istilah) adalah segala hukum syara’ yang
diambil dari kitab Allah SWT dan Muhamad SAW. Dengan jalan itjihat berdasarkan
hasil penelitian yang mendalam. Didalan ilmu fiqih ini juga membahas bagaimana
peraturan kehidupan menurut hukum islam bahkan sampai ketahap keberhasilan pun
dijelaskan oleh ilmu fiqih ini secara mendalam.
Dalam ilmu fiqih juga mejelaskan tentang pengertian Riba
dan Jual
Beli secara terperinci atau mendalam melalui panduan Al-Quran. Sabda nabi
bahkan pendapat ulama agar bisa tercapainya suatu kesepakatan dan keputusan
yang benar dan lurus sejalan dengan ajaran Al-Quran dan syariat islam.
Terkadang kita sebagai manusia menilai bahwa hukum fiqih itu
semuanya mudah termasuk didalamnya Riba kita tidak tau bahwa hal-hal yang
sekecil inilah yang selalu membuat kita menjadi tersesat apabila kita tidak
mengetahuinya secara terperinci, maka terjadilah penyimpangan–penyimpangan yang
bertentangan dengan ajaran islam.
Jual beli dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata yang mengandung
makna berlawanan yaitu Al Bai’ yang artinya jual dan Asy Syira’a yang artinya
Beli. Menurut istilah hukum Syara, jual beli adalah penukaran harta (dalam
pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda (barang)
yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas dasar
suka sama suka.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah
pengertian Jual Beli?
2.
Bagaimana
pengertian Riba’?
C.
Tujuan
Makalah
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Hadits 3, dan
juga dapat dijadikan referensi bacaan untuk menambah ilmu kami dan juga pembaca
terutama yang berkaitan dengan masalah hutang piutang.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Jual Beli
Jual beli
artinya menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain, kata
dalam bahasa arab terkadang di gunakan untuk pengertian lawannya.
Secara terminologi jual beli dapat didefinisikan sebagai berikut:
Menukar barang dengan barang atau barang dengan uangdengan jalan melepaskan hak milik
yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan (idris ahmad, fiqih
al-syafi’iyah : 5)
Penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan
atau memindahkan hak milik dengan ada
penggantinya dengan cara yang dibolehkan.
Aqad yang tegak atas dasar penukaran harta atas harta, maka
terjadilah penukaran hak milik secara tetap.(Hasbi Ash-Shiddiqi, peng.Fiqh
muamalah :97)
Adapun beberapa ulama mendefinisikan jual beli sebagai berikut;
Menurut ulama Hanafiyah
“saling menukarkan harta dangan harta melalui cara tertentu.” atau tukar
menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang
bermanfaat.”
Unsur-unsur definisi yang dikemukakan oleh ulama hanafiyah tersebut
adalah, bahwa yang dimaksud dengan cara yang khusus adalah ijab dan kabul, atau
juga bisa saling memberikan barang dan menetapkan harga antara penjual dan
pembeli. Selain itu harta yang diperjualbelikan itu harus bermanfaat bagi
manusia, seperti menjual bangkai, minuman keras dan darah itu tidak dibenarkan.
Menurut said sabiq jual beli adalah saling menukar harta dengan
harta atas dasar suka sama suka.
Menurut Imam An-Nawawi jual beli adalah saling menukar harta dengan
harta dalam bentuk pemindahan kepemilikan.
Menurut Abu Qudamah jual beli adalah saling menukar harta dengan
harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan.
Dari beberapa definisi tersebut penulis mengambil kesimpulan
bahwasanya jual beli adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah
pihak dengan cara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan, maka
akan terjadilah penukaran hak milik secara tetap dengan jalan yang dibenarkan
oleh syara’.Yang dimaksud sesuai dengan ketetapan hukum adalah memenuhu
persyaratan-persyaratan, rukun-rukun dalam jual beli, maka jika syarat dan
rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan ketentun syara’. Yang
dimaksud benda dapat mencakup pengertan barang dan uang dan sifatnya adalah
bernilai. Adapun benda-benda seperti alkohol, babi, dan barang terlarang
lainnya adalah haram diperjual belikan.
2. Landasan Hukum Jual Beli
Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama manusia
mempunyai landasan yang amat kuat dalam islam.
Dalam Al-quran Allah berfirman:
الَّذِينَ
يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ
الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ
مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ
مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ
وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya : Orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti
(dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176]
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang
kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya. (QS.Al-baqarah:275)
3. Rukun Jual Beli
Mengenai rukun dan syarat jual beli, para ulama memiliki perbedaan
pendapat.
Menurut mahzab hanafi rukun jual beli hanya ijab dan kabul saja.
Menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli hanyalah kerelaan antara
kedua belah pihak untuk berjual beli.
Menurut jumhur ulama rukun jual beli ada empat:
Orang yang berakad (Penjual dan pembeli)
Sighat (lafal ijab dan kabul)
Benda-benda yang diperjual belikan
Ada nilai tukar pengganti barang.
Menurut mahzab hanafi orang yang berakad, barang yang dibeli dan
nilai tukar barang termasuk syarat bukan rukun.
Syarat-syarat jual beli
Menurut jumhur ulama, bahwa syarat jual beli sama dengan rukun jual
beliyang disebutkan di atas adalah sebagai berikut:
Syarat orang yang berakad
1.Berakal
2.Orang yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda.
Maksudnya, seseorang tidak dapat bertindak sebagai pembeli dan penjual dalam
waktu yang bersamaan.
2). Syarat yang terkait dengan ujab kabul
a. orang yang mengucapkannya telah akil baligh dan berakal.
b. kabul sesuai dengan ijab.
c. ijab dan kabul dilakukan dalam satu majlis.
3). Syarat yang diperjual belikan
a. barang itu ada, atau
tidak ada di tempat, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk
mengadakan barang itu.
b. Dapat dimanfaatkan atau
bermanfaat bagi manusia.
c. Jelas orang yang
memiliki barang tersebut.
d. Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada waktu
yang telah disepakati bersama ketika akad berlangsung.
4). Syarat nilai tukar (harga barang)
a. Harga yang disepakati oleh kedua belah pihak harus jelas
jumlahnya.
b. Dapat diserahkan pada saat waktu akad (transaksi).
c. Bila jual beli dilakukan dengan cara barter, maka barang yang
dijadikan nilai tukar, bukan barang yang diharamkan syara’.
5. Macam-macam jual beli :
Jual beli ditinjau dari segi hukumnya dibagi menjadi dua macam
yaitu :
Jual beli yang syah menurut hukum dan batal menurut hukum
Jual beli yang sahih
Apabila jual-beli itu disyariatkan, memenuhi rukun atau syarat yang
di tentukan, barang itu bukan milik orang lain, dan tidak terkait dengan khiyar
lagi, maka jual beli itu sahih dan mengikat kedua belah pihak. Umpamanya,
seseorang membeli suatu barang. Seluruh rukun dan syarat jual-beli telah
terpenuhi. Barangitu juga telah di periksa oleh pembeli dan tidak ada cacat, da
tidak ada rusak. Uang yang sudah diserahkan dan barangpun sudah diterima dan
tidak ada lagi khiyar.
6. Hikmah dan anjuran jual beli
Adapun hikmah dibolehkannya jual-beli itu adalah menghindarkan
manusia dari kesulitan dalam bermuamalah dengan hartanya. Seseorang memiliki
harta di tangannya, namun dia tidak memerlukannya. Sebaliknya dia memerlukan
suatu bentuk harta, namun harta yang diperlukannya itu ada ditangan orang lain.
Kalau seandainya orang lain yang memiliki harta yang diingininya itu juga
memerlukan harta yang ada di tangannya yang tidak diperlukannya itu, maka dapat
berlaku usaha tukar menukar yang dalam istilah bahasa Arab disebut jual beli.
B.
Pengertian
riba
Menurut bahasa ribaartinya azziyadahyaitu bertambah atau lebih. Menurut
istilah adalah suatu aqad atau perjanjian yang terjadi dalam tukar menukar
suatu barang yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara’atau dalam
tukar menukar itu ada suatu tambahan meskipun tidak seketika itu
menerimanya.(Prof.H.Chatibul Umam.Fiqih.1993:237)
1. Sebab-sebab haramnya riba
Adapun sebab-sebab diharamkan riba yaitu sebagai berikut:
1. Karena allah dan rasulnya melarang atau mengharamkan nya.
2. Karena riba menghendaki pengambilan harta orang lain denga tidak
ada imbangannya.
3.Dengan melakukan riba,orang tersebut menjadi malas berusaha yang
sah menurut syara’.jika riba sudah mendarah daging pada seseorang,orang
tersebut lebih suka beternak uang karna ternak uang akan mendapatkan keuntungan
yang lebih besar daripada dagang dan dikerjakan tidak dengan susah payah.
4. Riba menyebabkan putusnya perbuatan baik terhadap sesama manusia
dengan cara utang piutang atau menghilangkan faedah utang piutang sehingga riba
lebih cenderung memeras orangmiskin dari pada menolong orang miskin.
2. Macam-macam riba
Menurut para ulama fiqh,riba dapat dibagi menjadi empat macam
yaitu:
a. Riba fadli yaitu menukrkan dua barang yang sejenis dengan tidak
sama timbangannya atau takarannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan.
Contohnya:tukar menukar emas dengan emas,perak dengan perak,beras
dengan beras,gandum dengan gandum dan sebagainya.
Supaya tukar menukar seperti itu tidsk termasuk riba,jual beli dan
tukar menukar barang itu harus memenuhi 3 syarat yaitu;
1.Tukar menukar barang itu harus tunai.
2.Timbangan atau takaran tersebut haru sama.
3.Timbang terima pada saat itu juga.
b. Riba qardi yaitu utang dengan cara ada keuntungan bagi yang
membari utang.
c. Riba yad yaitu berpisah dari tempat akaq sebelum timbang terima.
Maksudnya:orang yang membeli suatu barang,kemudian sebelum ia
menerima barang tersebut dari penjual,pembeli menjualnya kepada orang lain.jual
seperti ini tidak boleh,seb jual beli ini masih dalm ikatan dengan pihak
penjual pertama. Jual seperti ini dinamakan riba yad.
d. Riba nasa’yaitu tukar menukar dua barang yang sejenis maupun
tidak sejenis yang pembayarannya disyaratkan lebih,dengan diakhiri atau
dilambatkan oleh yang yang meminjamkan.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Menukar barang dengan barang atau barang dengan uangdengan jalan melepaskan hak milik
yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan (idris ahmad, fiqih
al-syafi’iyah : 5)
Menurut bahasa ribaartinya azziyadahyaitu bertambah atau lebih.
Menurut istilah adalah suatu aqad atau perjanjian yang terjadi dalam tukar
menukar suatu barang yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara’atau
dalam tukar menukar itu ada suatu tambahan meskipun tidak seketika itu
menerimanya.
DAFTAR PUSTAKA
(H.Sulaiman Rasjid.Fiqh Islam.1994:290)
(Dr.H.Hendi Suhendi,M.Si.Fiqh
Muamalah.2008:58-61).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar